No image available for this title

Skripsi Kesmas

EVALUASI PROGRAM PENGENDALIAN PENYAKIT KUSTA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LOMPENTODEA KECAMATAN PARIGI BARAT KABUPATEN PARIGI MOUTONG



Evaluasi Program Pengendalian Penyakit Kusta di Wilayah Kerja Puskesmas Lompentodea Kecamatan Parigi Barat Kabupaten Parigi Moutong
Evaluation on Leprosy Disease Control Program At Work Area of Lompentodea Public Centre, Parigi Barat District of Parigi Moutong Regency
Nur Suci Dwi Wulan, Abd. Rahman, Hasanah
Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan,
Universitas Tadulako, Jl. Soekarno Hatta KM 9, Palu, 94116, Indonesia
E-mail: chychy.ndwiwulan@yahoo.com

ABSTRAK
Penyakit kusta merupakan salah satu penyakit menular yang menimbulkan masalah yang sangat kompleks. Dimana prevalensi penyakit kusta di Kabupaten Parigi Moutong pada tiga tahun terakhir mengalami peningkatan yaitu pada tahun 2012 sebesar 2,6%, pada tahun 2013 sebesar 4,8% , dan 5,7% pada tahun 2014. Salah satu penyebab tingginya angka penemuan penderita kusta karena tidak adanya pelaksanaan penyuluhan kelompok. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pelaksanaan Program Pengendalian Penyakit Kusta di Wilayah Kerja Puskesmas Lompentodea Kecamatan Parigi Barat Kabupaten Parigi Moutong. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Jumlah informan keseluruhan adalah 6 informan yang terdiri 1 informan kunci (key informan), 1 Informan biasa, dan 4 Informan tambahan. Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan analisa isi (content analisis) dengan teknik matriks. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari aspek input yakni program bisa berjalan dengan baik meskipun adanya keterbatasan SDM, dana dan fasilitas, Process dalam pelaksanaan program sudah sesuai dengan SOP yang sudah di tentukan oleh Dinas Kesehatan, output pada monitoring dan evaluasi pelaksaan program sudah berjalan baik dengan pelaporan yang dilakukan tiga bulan sekali. Diharapkan Dinas Kesehatan terkait untuk memaksimalkan dana untuk pelaksanaan program kusta sehingga input, process yang belum maksimal bisa teratasi dengan efektif dan efesien.
Kata kunci: Evaluasi Program Pengendalian Penyakit Kusta, Input, Process dan Output

ABSTRACK
Leprosy is one of infectious diseases causing a complex matter where prevalence of leprosy in Parigi Moutong Regency has increased within last 3 years from 2012 with 2.6 percent; in 2013 with 4.8 percent; and in 2014 with 5.7 percent. One of the causes leprosy increase is no group counseling implementation. The research aims too find out the implementation of leprosy control program in work area of public healt of Lompentodea, Parigi Barat District, Parigi Moutong Regency. The research used qualitative method. The informants were 6 people, consisting of one key informant, 1 common informant, and 4 additional nformants. The data were procesed using content analysis with matrix technique. The results indicated that from input aspect, the program can run well event though there are limitid humand resources, fund and facilities; process is already based on Standard Operational Procedure decided by Healt Departement, output on monitoring and evaluation of the program the have run well with the reporting in every three monts. It is suggested for the relevant Health departement to maximize fund for the program. For the health employees, it is expeted o supervise leprosy patients intensively in counseling and take madicine.
Keyword: evaluation, Input, Process and Output Program of Leprosy Control

PENDAHULUAN
Kusta merupakan salah satu penyakit menular yang menimbulkan masalah yang sangat kompleks. Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai masalah sosial, ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan nasional. Penyakit kusta pada umumnya terdapat di negara-negara yang sedang berkembang sebagai akibat keterbatasan kemampuan negara tersebut dalam memberikan pelayanan yang memadai dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan sosial ekonomi pada masyarakat.
Hasil penelitian Maranatha (2012) di Kabupaten Karawang dalam mengevaluasi program kusta dengan melakukan pendekatan sistem, yang dimana dinilai dari input, proses, output, dan outcome serta lingkungan. Cakupan yang dinilai untuk mengevaluasi program pengendalian penyakit kusta di Puskesmas Cikampek periode Januari-Desember 2012 ialah meliputi Prevalensi rate, Angka penemuan penderita baru, Angka kesembuhan (RFT) MB, Proporsi cacat tingkat 2, Proporsi penderita anak, Proporsi MB, Cakupan penyuluhan kelompok, dan Cakupan pencatatan dan pelaporan 100%. Berdasarkan perbandingan nilai cakupan dengan tolak ukur didapatkan masalah tingginya angka penemuan penderita baru, dan tidak ada pelaksanaan penyuluhan kelompok.
Pada tahun 2014 ditemukan sebanyak 213.899 kasus baru kusta yang terdeteksi di seluruh dunia dengan kasus tertinggi berada di regional Asia Tenggara yakni sebesar 154.834 kasus. Ada tiga negara teratas dengan jumlah kusta terbanyak dimana Indonesia menduduki peringkat ketiga negara dengan endemik kusta terbanyak setelah India dan Brazil. Selain itu, dilaporkan juga bahwa Indonesia merupakan penyumbang penyakit kusta tertinggi ke 2 di Asia Tenggara.
Di Indonesia dilaporkan bahwa pada tahun 2012 terdapat kasus baru kusta sebanyak 18.994 kasus. Dibanding tahun 2012, tahun 2013 mengalami penurunan sebanyak 16.856 kasus. Sekitar 83,4% kasus di antaranya merupakan tipe Multi Basiler atau kusta basah.
Prevalensi penyakit kusta di Kabupaten Parigi Moutong pada tiga tahun terakhir terus mengalami peningkatan sebesar 2,6% pada tahun 2012, 4,8% pada tahun 2013, dan 5,7% pada tahun 2014. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Parigi Moutong tahun 2014 menunjukan bahwa jumlah kasus selama Januari–November 2014 yaitu sebesar 52 kasus dan terdapat 38 kasus baru yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Parigi Moutong. Dari 228 desa terdapat 26 desa di Kabupaten Parigi Moutong yang dikategorikan sebagai desa high endemis kusta. Bagian Pengendalian Masalah Kesehatan (PMK) Dinas Kesehatan Kabupaten Parigi Moutong melaporkan bahwa Kecamatan Parigi Barat merupakan daerah paling bermasalah dengan kusta (high endemis) selain Kecamatan Tinombo Selatan. Di Kecamatan Parigi Barat terdapat kasus baru kusta selama tiga tahun terakhir (2012-2014) yaitu sebanyak 36 kasus yang tersebar di 3 desa yaitu Desa Baliara degan 1 penderita kusta, Desa Jono Kalora 1 penderita, dan Desa Air Panas dengan jumlah penderita kusta terbanyak yaitu sebanyak 34 kasus, desa tersebut merupakan wilayah kerja Puskesmas Lompentodea.
Menurut laporan petugas Kusta di Puskesmas Lompentodea bahwa kasus penyakit kusta memang menjadi masalah kesehatan beberapa desa di Kecamatan Parigi Barat. Berdasarkan data tiga tahun terakhir, terjadi fluktuasi pada kasus kusta di Puskesmas Lompentodea. Pada tahun 2012 didapatkan kasus baru kusta sebanyak 11 kasus, pada tahun 2013 sebanyak 24 kasus baru, dan pada tahun 2014 terdapat 2 kasus baru kusta. Data terbaru tahun 2015 sampai dengan bulan april ditemukan kasus baru kusta sebanyak 3 kasus. Jumlah tersebut diluar penderita yang belum mendapatkan pengobatan.

METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Dimana peneliti sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi (gabungan) sumber, yaitu mengumpulkan informasi kemudian membandingkan informasi dari satu sumber dengan data yang didapat dari sumber lain dan analisis data bersifat induktif. dimana peneliti menentukan informan secara purposive sampling. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 07 Januari – 20 Januari 2016. Penelitian ini telah dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Lompentodea Desa Baliara Kecamatan Parigi Barat Kabupaten Parigi Moutong. Informan dalam hal ini menggunakan trianggulasi sumber yang terdiri dari informan kunci yaitu Kepala Kepala Puskesmas Puskesmas Lompentodea, informan biasa yaitu penaggung jawab program pengendalian kusta serta informan tambahan yaitu penderita kusta dan bidan desa.
HASIL PENELITIAN
1. Karakteristik Informan
Informan dalam penelitian ini sebanyak 6 orang, yang terdiri dari 1 orang informan kunci yaitu Kepala Puskesmas Lompentodea, 1 orang informan biasa yaitu Tenaga Kesehatan sebagai penanggung jawab program pengendalian kusta, dan 4 orang informan tambahan yaitu 3 penderita penyakit kusta dan 1 bidan desa. Pengambilan informasi dilakukan dengan metode indepht interview atau wawancara mendalam, serta dilakukan observasi langsung dan dokumentasi.

No. Nama Informan Usia
(Tahun) Pendidikan Terakhir Keterangan
1. YT 32 S1 Informan Kunci
2. IV 32 S1 Informan Biasa
3. AM 36 SD Informan Tambahan
4. HA 33 SD Informan Tambahan
5. HH 36 SMA Informan Tambahan
6. NS 38 D3 Informan Tambahan

1. Input Pelaksanaan Program Pengendalian Penyakit Kusta di Wilayah Kerja Puskesmas Lompentodea Kecamatan Parigi Barat
Wawancara mendalam yang peneliti lakukan kepada informan kunci dan informan biasa tentang berapa jumlah petugas kesehatan dalam penyelenggaraan program pengendalian kusta yang ada di Puskesmas Lompentodea, Berikut pernyataan informan :
“Ee... pengelola kusta disini satu orang, jadi kalo mau turun biasa dia sendiri, biasa dia ajak teman, biasa sekalian dengan bidan di desa. mmm... paling banyak tiga orang”. (YT, 19 Januari 2016)
“Biasanya kalo turun lapangan cuma saya sendiri, tapi biasanya saya bawa teman satu dengan kalo pemeriksaan itu bidan desa ada ee ada juga dari Dinas Kesehatan Parigi.” (IV, 19 Januari 2016)
Wawancara mendalam peneliti dengan informan tambahan tentang jumlah tenaga kesehatan dalam pelaksanaan program pengendalian kusta, Seperti diungkapkan para informan sebagai berikut :
“Tidak banyak cuma dua org begitu barangkali.. dikasih cukup saja.. ee.. kalo kita disini yang penting dilayani.. ” (AM, 22 Januari 2016)
“sedikit tidak banyak dorang, e kurang juga.. apa kitakan banyak, jadi saya rasa kurang itu dorang ” (HA, 22 Januari 2016)
“dulu tiga orang, tapi te tau juga. Ada juga pernah Cuma dua orang saja... ee... tau juga e cukup barangkali.. hehe.. saya tidak tau itu,, yang penting kita dilayani, dikasih obat begitu” (HH, 22 Januari 2016).
“ ada biasanya dua orang dari puskesmas, saya juga biasanya ikut membantu, jadi sudah cukup itu untuk menangani pasien kusta “ (NS, 24 Mei 2016)
Pertanyaan mengenai pelatihan khusus bagi petugas kesehatan penyelenggaraan program pengendalian kusta di Puskesmas Lompentodea, informan kunci dan informan biasa menyatakan bahwa petugas pengendalian kusta di Puskesmas Lompentodea di berikan pelatihan khusus dari Dinas Kesehatan. Seperti yang diungkapkan oleh informan :
“kalo kustakan dia... apa ee... istilahnya, kalo kaya diare itukan biasa.. kalo kusta memang dia detail kita periksa itu tanda-tanda kusta... apa-apa semua itu memang butuh pelatihan, jadi memang petugas kusta disini sudah berapa kali ikut pelatihan, biasa pelatihan kusta 2 hari sampai 3 hari.. hm.... dipelatihan itu intinya itu cara-cara untuk mengobati bagaimana menangani pasien seperti itu..” (YT, 19 Januari 2016)
“kalo saya sendiri ada pelatihan, yang kasih pelatihan itu dari Dinas Kesehatan Provinsi. Kalo dipelatihannya itu ada materi yang di kasih tentang kusta begitu, macam bagaimana cara pengobatannya diagnoisnya pokonya seperti begtu semua yang menyangkut tentang apa apa saja yang diprogramkan dikusta.” (IV, 19 Januari 2016)
Wawancara mendalam peneliti kepada informan kunci dan informan biasa tentang kapan pelaksanaan pelatihan diadakan, informan mengatakan bahwa pelatihan yang diadakan tidak menentu, tergantung panggilan dari Dinas Kesehatan, barikut pernyataan kedua informan:
“ee... kalo kita dipuskesmas tunggu panggilan dari dinas, kalo pelatihan pelatihan begitu kan itu dinas yang adakan. kita dari pemegang program di Puskesmas hanya menunggu panggilan dari dinas.” (YT, 24 Mei 2016)
“yang saya ikut.. hama sudah lama dari tahun 2010. mm... itu Cuma satu kali saja. Ada sih.. monev saja, tapi tidak rutin setiap tahun. Monitoring evaluasi biasanya untuk pengelola, tapi jarang juga, biasanya satu tahun satu kali, biasanya ada biasanya tidak” (IV, 24 Mei 2016)
Wawancara mendalam peneliti kepada informan kunci dan informan biasa tentang sumber dana penyelenggaraan program pengendalian kusta, informan mengatakan bahwa sumber dana yang diterima berasal dari DAU (Dana Alokasi Umum) dan BOK (Bantuan Operasional Kesehatan). Sesuai dengan pernyataan berikut:
“Untuk kegiatan kusta.. ada dari dana apa e.. biasa e... seperti provinsi dari daerah dana bantuan operasional kesehatan. Di fasilitasi bayar transpor di biayai transportnya.. itu kalo kaya pelatihan pelatihan dibayarkan semua menginapnya, transportnya, uang sakunya... tapi kalo mau turun ke desa untuk pecakan kusta untuk turun ke desa di biayai trasnportnya saja.” (YT, 19 Januari 2016)
“Sumber dana untuk program kusta klo untuk kita disini, saya lalu dari dana apa yaa, hm.. DAU (Dana Alokasi Umum) mungkin, itu dari dinas kesehatan. Sama dari dana BOK (Bantuan Operasional Kesehatan) juga ada, untuk pemeriksaan dari dana BOK ada, yang dari dinas itu dana DAU mungkin.” (IV, 19 Januari 2016)
Pertanyaan mengenai kecukupan dana dalam penyelenggaraan program pengendalian kusta, informan mengemukakan bahwa dana yang diterima diminimalisir agar setiap program yang direncanakan dapat berjalan dengan baik. Adapun pernyataan informan yaitu :
“Mm.. lumayanlah cukup.. hmm dicukupkan.” (YT, 19 Januari 2016)
“Sebenarnya tidak cukup, tapi dikasih cukup heheheh... di cukup cukupkan.” (IV, 19 Januari 2016)
Pertanyaan wawancara mendalam yang dilakukan peneliti kepada informan kunci dan informan biasa mengenai keterbatasannya dana dalam melaksakan program, kedua informan mengatakan bahwa dengan dana yang ada mereka tetap berusaha agar program bisa berjalan dengan baik. Berikut pernyataan dari kedua informan:
“sebenarnyakan kalo bicara dana begitu pasti tidak cukup toh, tapi kita maksimalkan, e... untuk saat ini apa ee... kalo itukan relatif ada yang menurut anunya cukup ada yang tidak.. begitu toh.. kalo sekarang ini bolehlah karna sudah lumayan cukup karna ada dana BOK juga, ada bantuan operasional kesehatan, ada juga yang dari daerah, ada yang dari pusat, untuk kusta kan.. jadi ya.. sudah lumayan cukup sudah bagus” (YT, 24 Mei 2016)

“ tidak sih...apa yang ada saja kita lakukan, dana cukup ya di cukup-cukupkan hehehe... ya.. yang penting programnya jalan” (IV, 24 Mei 2016)

Wawancara mendalam yang peneliti lakukan kepada informan kunci dan informan biasa mengenai fasilitas kesehatan pada pelaksanaan program pengendalian penyakit kusta di Puskesmas Lompentodea, informan mengemukakan bahwa fasilitas yang disediakan yaitu setiap setahun sekali. Sesuai dengan pernyataan berikut :
“iya tersedia. Kami selalu menyiapkan.” (YT, 19 Januari 2016)

“Ada, tapi tidak banyak satu tahun satu kali mungkin itu dari dana BOK untuk survei kontak, satu bulan satu kali.” (IV, 19 Januari 2016)
Wawancara mendalam yang dilakukan peneliti kepada informan kunci dan informan biasa mengenai apa saja fasilitas yang tersedia dalam pelaksanaan program, informan mengatakan bahwa tidak adanya fasilitas khusus yang tersedia maka petugas kesehatan memanfaatkan fasilitas yang ada untuk menjalankan program namun hal tersebut tidak mempengaruhi kualitas kerja petugas kesehatan dalam memberikan pelayanan, seperti yang diungkapkan kedua informan :
“di poli kita pake ruangan di poli, kalo ada ruangan yang kosong kita bisa pake ruangan itu sembaranglah tidak ada tempat khusus” (YT, 24 Mei 2016)

“ kalo dari BOK itu uang tranport saja, karna yang dibiayai BOK itu Cuma uang trasnport untuk petugas, kalo pasiennya tidak. Kalo untuk konseling raungan khusus tidak ada kita, biasanya hanya di poli umum saja. Kalo ruangan khusus sendiri untuk konseling kusta tidak ada” (IV, 24 Mei 2016)



2. Proses Pelaksanaan Program Pengendalian Penyakit Kusta di Wilayah Kerja Puskesmas Lompentodea Kecamatan Parigi Barat
Wawancara mendalam penelitian kepada informan kunci dan informan biasa tentang bagaimana teknis pelayanan program pengendalian kusta, kedua informan mengemukakan bahwa teknis pelaksanaan kegiatan dimulai dengan mengetahui keberadaan pasien yang tidak terdata dan selanjutnya diperlukan koordinasi yang baik dengan pihak-pihak yang lain sehingga program berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Seperti yang diungkapkan kedua informan sebagai berikut:
“Pertama kusta kita pelacakan ke sekolah-sekolah desa-desa, cari pasien kusta. Kalo ditemukan di periksa positif kusta dikasih apa ya.. program obat-obat memang untuk kusta. Kalo kaya disini kita di Puskesmas kalo ada pasien datang dengan keluhan seperti kusta ya tersangka kusta.. kita periksa , ya kalo positif kusta kita kasikan obat untuk kusta, memang pengobatan nasionalnya untuk kusta. Dia tipenya minum obat terus tiap hari yang tidak putus.. tapi saya tdk tau e... pengelola kustanya yang paling tau berapa lama itu obatnya. Mungkin... satu tahun,, saya kurang tau itu.. pengelola kustanya labih tau. Saya juga biasanya turun, kalo ada dari Kementrian Kesehatan dari Jakarta yang memang turun langsung pelacakan kusta saya sebagai Kepala Puskesmas disini mendampingi, liat-liat juga bagaimana situasi-situasi dilapangan toh. Apalagi masalah kusta ini kita Puskesmas Lompe.. ee... ada satu Desa Air panas yang mmg banyak penderita kusta,, dari semua Puskesmas terkenal memang Puskesmas Lompe dengan adanya penyakit kusta itu di Puskesmas Lompe ada memang satu desa yang menonjol kustanya. Tapi tidak seberapa juga paling cuma... tidak banyaklah... Cuma kusta inikan sebenarnya penyakit yang sudah langka , jadi kalo pas ada begitu jadi biasanya terekspos skali.” (YT, 19 Januari 2016)
“Kalo saya mau turun pemeriksaan saya kasih tau dulu sama bidan desanya atau kalo ada program dari Dinas Provinsi saya pasti kasi tau saya konfirmasi dulu sama bidan desanya untuk kasih tau sama masyarakatnya supaya pada saat kita turun masyarakatnya sudah kumpul atau kalo tidak saya turun sendiri saya periksa di.. dirumahnya masing.” (IV, 19 Januari 2016)
Wawancara mendalam penelitian kepada informan kunci dan informan biasa tentang bagaimana perencanaan yang dibuat untuk penyelenggaraan program, kedua informan mengemukakan bahwa Kegiatan pengendalian kusta dilakukan sesuai dengan perencanaan yang telah diputuskan bersama oleh pihak-pihak terkait. Perencanaan tersebut disusun sesuai dengan jenis pelayanan yang akan nantinya akan diterima oleh masyarakat di Parigi. Adapun pernyataan dari informan yaitu :
“Perencanaan itu kita sesuaikan dengan teknik pelayanan.” (YT, 19 Januari 2016)
“Perencanaan itu kita sepakati saat ada pertemuan dengan pihak Dinas Kesehatan.” (IV, 19 Januari 2016)
Wawancara mendalam penelitian kepada informan kunci dan informan biasa tentang apakah penyelenggaraan program sudah sesuai dengan perencanaan, kedua informan mengemukakan bahwa Penyakit kusta perlu mendapatkan perhatian baik dari pemerintah, petugas kesehatan maupun masyarakat itu sendiri. Namun tidak hanya itu, kurangnya dana dapat menyebabkan terhambatnya kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya. Seperti yang di ungkapkan kedua informan sebagai berikut :
“ya ada yang sudah. Ada belum. Pengelola yang lebih tau itu.” (YT, 19 Januari 2016)
“hm, ia juga, jadi setiap bulan kita turunnya per TW (per 3bulan) begitu. Tidak harus sih, tergantung kalo banyak pasien kalo ada dananya banyak pasti kita turun hehehe.” (IV, 19 Januari 2016)
Wawancara mendalam peneliti dengan informan tambahan tentang pelaksanaan program semuanya berjalan dengan baik atau kah ada yang kurang sesuai dengan harapan, keempat informan mengungkapkan bahwa Tenaga Kesehatan di Puskesmas Lompentodea sudah mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawab mereka dengan maksimal dan memberikan informasi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Seperti diungkapkan para informan sebagai berikut:
“sudah bagus itu. Hehee. Petugas kesehatannya juga baik baik.. jadi saya rasa sudah sesuai harapan.. hehehe” (AM. 22 Januari 2016)
“io bagus, harapannya kita kalo lebih bagus lagi lebih baik.. tapi e so bagus juga. Ee apa kita biasa kalo ada yang kita te tau kita bantanya sama dorang itu ” (HA, 22 Januari 2016)
“oh io dek apa yang dorang bikin itu so bagus, dorang kasih tau jadi kita juga bisa tau toh bahayanya ini penyakit. Ee haha. Sudah baik itu sudah hehehe” (HH, 22 Januari 2016)
“karna disini kustanya sudah pernah dikunjungi dari kementrian kesehatan, dari belanda, dari jakarta sudah beberapakali dari provinsi, disini kustanya terkenal memang hehehe... disini sudah berjalan baik, karna mereka kesadaran masyarakat disini sudah akhir-akhir ini kan mereka sudah ini apa.. sudah sadar.. jadi sudah ada putih-putih mereka sudah laporkan” (NS, 24 Mei 2016)
Hasil wawancara mendalam penelitian kepada informan kunci dan informan biasa tentang penderita kusta mendapatkan konseling pada saat mengikuti program, kedua informan mengemukakan bahwa Sebagian masyarakat sadar untuk tetap hidup sehat serta terhindar dari penyakit kusta, oleh karena itu mereka mau mengikuti konseling bahkan berinisiatif untuk menanyakan langsung kepada petugas walau program tidak sedang berjalan. Seperti diungkapkan para informan sebagai berikut :
“e. ada.. tapi juga biasanya mereka biar belum jalan program mereka datang ke puskesmas untuk pemeriksaan. Begitu..” (YT, 19 Januari 2016)
“ya biasa ada juga. Malahan biasa ada yang sampe langsung datang kerumah saya untuk konseling” (IV, 19 Januari 2016)
Wawancara mendalam yang dilakukan peneliti dengan informan kunci dan inforaman biasa tentang pemberian MDT kepada pasien kusta, informan mengatakan bahwa pemberian MDT atau pengobatan pada pasien kusta selalu rutin diberikan, seperti yang di ungkapkan kedua informan :

“kalo kita terima pasien begitukan ada laporan dari masyarakat atau mungkin pas dia datang periksa penyakit lain kita liat dia ada bercak-bercak seperti kusta kita liat dia oh kayanya kusta, itu kita periksa, kalo memang hasilnya positif kusta baru dikasih obatnya. Kalo dia sudah positif kusta dia rutin harus minum obat, petugas kustanya itu dipuskesmas kontrol” (YT, 24 Mei 2016)
“ iya.. rutin setiap e.. kalo pasien yang PB tiap bulan, setiap bulan toh, begitu juga dengan pasien MB tiap bulan dapat obatnya” (IV, 24 Mei 2016)
Wawancara mendalam yang dilakukan peneliti dengan informan kunci dan inforaman biasa tentang tindakan petugas kesehatan jika ada pasien yang berhenti berobat, informan mengungkapkan bahwa petugas kesehatan harus mencari kembali dan memberikan konseling kembali pada penderita tergantung pada kesadaran penderita. Seperti yang di katakan kedua informan :
“e... kan di kunjungi dan kan dari mereka itu pengelola programnya puskesmas itu sendiri rutin ba cek bagaimana kepatuhan minum obat. Tapi apa e... kalo dorang memang... dari pasiennya kalo memang ya... sudah dia sendiri malas minum obat mau bagaimana toh... tapi dari kita puskesmas harus tuntas, harus e.. tetap harus ada pengecekan sama kepatuhan bagaimana dia minum obat, cuman kalo dia sendiri juga tidak mau minum obat, mau diapa dan kita Cuma tetap kita kasih masukan, kita kasih yang terbaik untuk mereka, dari mereka sendiri karna yang minum obatkan mereka” (YT, 24 Mei 2016)
“ sebenarnya dicari sih... Cuma ada kapan itu dia berenti sudah berapa bulan tidak datang-datang lagi, tapi kapan itu dia datang ulang, karna kambuh lagi toh.. kambuuh lagi penyakitnya jadi dia datang sendiri sadar sendiri dia. Saya sudah kasih tau sama bidan desanya,, obatnya tidak dia datang ambil di cari.. eh akhirnya datang sendiri,, mereka sadar datang sendiri... kaya tadi ada yang sudah enam bulan minum obat dia rasa sudah enak baru berenti.. pas dy kambuh lagi datang sendiri lagi” (IV, 24 Mei 2016)
Wawancara mendalam penelitian kepada informan kunci dan informan biasa tentang penyelenggaraan program mendapatkan dukungan dari masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Lompentodea, kedua informan mengemukakan bahwa Keberhasialan program pengendalian penyakit kusta dapat dilihat dari respon masyarakat dalam mengikuti setiap kegiatan. Di Parigi sendiri masyarakat masih ada yang kurang merespon, terbukti bahwa masih ada masyarakat yang menolak untuk diberikan pengobatan padahal mereka sudah positif terkena penyakit kusta. Seperti diungkapkan para informan sebagai berikut :
“o ya masyarakat kasih dukungan juga, kalo ada penyuluhan atau kalo kita turun lapangan masyarakat juga suka.” (YT, 19 Januari 2016)
“ya kita dapat respon yang baik dari masyarakat. E.. biasa juga ada yang tidak mendukung karena tidak mau di obati.” (IV, 19 Januari 2016)
Wawancara mendalam peneliti dengan informan tambahan tentang respon masyarakat ketika program sedang berlangsung, informan mengungkapkan bahwa Jumlah masyarakat yang ikut ketika program berjalan berfluktuasi, tergantung dari kesibukan masyarakat. Seperti diungkapkan para informan sebagai berikut :
“di dengar saja apa yang dibilang. Kita yang sakit itu yang ikut, biasa banyak biasa sedikit.” (AM, 22 Januari 2016)
“io kita dengar baru kita ingat. Tergantung juga kalau tidak sibuk banyak yang ikut.” (HA, 22 Januari 2016)
“eh biasa banyak juga kitorang yang ikut.” (HH, 22 Januari 2016)
“ehh... bertamba.. karnakan dia awalnya umpamanya kena dia punya bapak, jelas dilingkungan itu yah.. kta harus periksa itu adenya, orang tuanya semuanya diperiksa. Ditemukanlah lagi.. begitu.. jelas bartambah karana dicari tau teruskan..” (NS, 25 Mei 2016)
Wawancara mendalam peneliti dengan informan tambahan tentang penyebarluasan informasi tentang kusta, informan mengemukakan bahwa Masyarakat yang masuk dalam wilayah kerja Puskesmas Lompentodea sudah menerima informasi seputar penyakit kusta yang mereka peroleh dari penyuluhan yang diberikan oleh petugas kesehatan, walaupun belum semuanya yang menerima informasi tersebut. Seperti diungkapkan informan sebagai berikut :
“kalo kita disini dikumpul di balai desa.. ee... anu di polindes dulu.. kemudian ke balai desa.. kan ada anu dari... anu dari sana dari parigi yang untuk penyakit anu ini ... bagus juga itu ada orang petugas dari puskesmas... jadi kita ini gampang sudah ba periksa-periksa jadi apaa e.. kita tau juga,, ada juga biasanya ..ada juga orang dia sembunyi begitu tidak mau di tau kusta.” (AM, 22 Januari 2016)
“ba soasialisasi baru diperiksa begitu kadang di anu.. disini di balai desa atau di polindes,,, e,, kalo dorang langsung datang berkunjung.. kalo seperti kemarin kita yang diminta kesana ke... kesehatan .... ada data yang dari sini takumpul.. jadi kita yang disuruh kesana.” (HA, 22 Januari 2016)
“biasa dorang datang kalau mau ba obat, tapi dorang kasih sosialisasi dulu kita.” (HH, 22 Januari 2016)
“iya.... mereka sudah tau,, kalo saya ini putih-putih, karna saya blom pernah dilatih kusta, karna ada pengelola kusta puskesmas, jadi begitu mereka datang kemari untuk melapor dorang pe ini, atau tidak biasa yang saya temukan saya telvon sudah pengelola kusta yang di puskesmas, jadi dia yang datang langsung periksa, walaupun saya juga tau itu, tapikan ada pengelola kusta memang.. iya ada penyuluhan” (NS, 24 Mei 2016)
Wawancara mendalam penelitian kepada informan kunci dan informan biasa tentang pelaksanaan monitoring dan evaluasi selama diselenggarakannya program, kedua informan mengemukakan bahwa Puskesmas Lompentodea sudah melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi dengan cukup baik, dapat dilihat dari pegawai di Puskesmas tersebut yang rutin membuat laporan kegiatan dan kemudian diberikan kepada Dinkes untuk di evaluasi. Seperti diungkapkan para informan sebagai berikut :
“kalo laporan ada terus tiap tahun dengan sebulan sekali.” (19 Januari 2016)
“monitoring kita biasa 3 bulan 1 kali. Tapi biasa juga tergantung kalo ada pasien. Kita ada juga laporannya tiap 3 bulan dengan tiap bulan juga ada kita kasih ke Dinas Kesehatan.” (IV, 19 Januari 2016)
Selanjutnya wawancara mendalam yang dilakukan peneliti kepada informan kunci dan informan biasa mengenai kendala dalam penyelenggaraan program pengendalian penyakit kusta di Puskesmas Lompentodea, informan menyatakan bahwa kendala yang dihadapi yaitu minimnya pengetahuan masyarakat mengenai penyakit kusta, menyebabkan kurangnya tingkat kesadaran masyarakat pada pengendalian penyakit kusta. Seperti pernyataan berikut :
“ya masyarakat itu masih kurang sadar dengan kebersihannya. Biasa juga di sembunyikan dulu gejalanya penyakit, lama kelamaan baru melapor ke bidan desa.” (YT, 19 Januari 2016)

“Disini ada sih kaya didesa air panas itu bagus kalo sudah gejala-gejala kusta mereka lapor dengan bidan desanya. Kalo di tempat lain ada sih... Cuma nanti kita yang cari-cari. Tingkat kesadaran dorang masyarakat itu yah masih jaranglah... masih sangat kurang. Kalo desa lain kaya air panas itu yah sudah lumayan sudah bagus mereka sudah terbuka dengan petugas Puskesmas, biasanya kalo ee ada gejala panu begitu putih begitu-begitu mereka lapor sama bidan desanya, bidan desanya yang telepon saya, saya turun pemeriksaan.” (YT, 19 Januari 2016)
3. Output Pelaksanaan Program Pengendalian Penyakit Kusta di Wilayah Kerja Puskesmas Lompentodea Kecamatan Parigi Barat

Wawancara mendalam penelitian kepada informan kunci dan informan biasa tentang selama diselenggarakannya program, terjadi penurunan angka penderita yang merupakan sasaran program, kedua informan mengemukakan bahwa Selama kegiatan pengendalian penyakit kusta dilaksanakan di Puskesmas Lompentodea, terjadi penurunan kasus setiap tahunnya. Walaupun demikian, diwilayah tersebut masih ada saja masyarakat yang menolak untuk menerima pelayanan kesehatan dari petugas kesehatan. Seperti diungkapkan para informan sebagai berikut :
“Setiap tahunnya, bagaimana eeeee iya ada perubahan.” (YT, 19 Januari 2016)
“Sejak saya bertugas disini sudah lumyanlah, tapi mereka ada yang sembunyi, ada yang tidak mau di obati, ada yang putus berobat jadi kita juga kewalahan.” (IV, 19 Januari 2016)
Wawancara mendalam penelitian kepada informan kunci dan informan biasa tentang apakah ada perubahan perilaku yang terjadi pada penderita Kusta, kedua informan mengemukakan Walaupun tidak semua masyarakat memiliki kesadaran untuk merubah perilakunya, namun banyak juga masyarakat yang sudah mau untuk hidup sehat. Seperti diungkapkan para informan sebagai berikut :
” ya dek, ada beberapa juga.” (YT, 19 Januari 2016)
“kalo itu ada yang berubah ada juga yang tidak, ada yang cuek.” (IV, 19 Januari 2016)
Wawancara mendalam penelitian kepada informan kunci dan informan biasa tentang pemahaman dan pengetahuan mereka bertambah tentang kusta, kedua informan mengemukakan bahwa Setiap turun kegiatan petugas kesehatan selalu memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang penyakit kusta. Banyak masyarakat yang sudah paham namun masih enggan untuk melaksanakan prosedur yang diberikan kepada mereka. Seperti diungkapkan para informan sebagai berikut :
“harapan yang


Ketersediaan

SKM20160139N 201 11 036 WUL eMy LibraryTersedia

Informasi Detil

Judul Seri
-
No. Panggil
N 201 11 036 WUL e
Penerbit : Palu.,
Deskripsi Fisik
xvii , 68 hlm ; 29 cm
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
-
Klasifikasi
NONE
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subyek
Info Detil Spesifik
xvii , 68 hlm ; 29 cm
Pernyataan Tanggungjawab

Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain




Informasi


DETAIL CANTUMAN


Kembali ke sebelumnyaXML DetailCite this